Artikel ini muncul di Injeksi-Post Agustus 2008
PDA? Patent Ductus Arteriosus? Maaf, pada kesempatan ini tidak akan membahas salah satu kelainan kardiovaskuler tersebut. PDA yang dimaksud adalah Personal Digital Assistant. Perangkat digital yang memanfaatkan layar sentuh sebagai sarana navigasinya. Perangkat ini memiliki keunggulan PIM (Personal Information Management) yang baik layaknya memiliki asisten pribadi. Di Negara Amerika Serikat, mahasiswa tahun ke-3 dan ke-4 difasilitasi serta diwajibkan oleh pihak kampus untuk memiliki perangkat ini. Di lingkungan FK Unud sendiri cukup banyak mahasiswa yang memanfaatkan perangkat satu ini, terutama yang sudah memasuki masa koass.
Pada artikel kali ini akan dibahas mengenai beberapa pertanyaan yang sering muncul saat membeli PDA. Hal tersebut antara lain:
1.PDA atau PDA-phone? Hal ini sangat subjektif, banyak orang yang agak skeptis dengan keberadaan PDA tanpa telpon. Komentar mereka “buat apa beli PDA tapi tidak bisa menelpon dan SMS”. Keuntungan dari PDA tanpa telepon yaitu daya tahan baterai yang lebih baik (hal ini sangat krusial saat koass) selain itu perangkat tipe ini tidak mengeluarkan frekuensi sinyal handphone yang terkadang dapat mengganggu peralatan medis. Konsumen yang membeli tipe ini rata-rata telah memiliki handphone. Disisi lain PDA-phone menawarkan kemudahan akses data, sms, dan telpon. Tipe ini lebih banyak ditawarkan di toko-toko dan konsumen memilih tipe ini dengan alasan kepraktisan.
2.Memilih sistem operasi (OS)? Anda mungkin tidak lagi kaget, sekarang ini bukan hanya komputer yang bersistem operasi. Pertanyaan klasik ini sering ditanyakan sebelum membeli PDA. Ada 2 nama besar OS PDA yaitu Palm OS dan Windows Mobile. Kedua sistem ini memiliki jumlah judul aplikasi kedokteran yang cukup beragam bahkan untuk freeware. Palm OS menang dari sisi stabilitas, kesederhanaan, dan kemudahan operasional. Windows Mobile menang dari segi multimedia dan tampilan aplikasi. Belakangan Palm OS mulai ditinggalkan karena sedikitnya aplikasi baru (non-medis) yang muncul. Sistem operasi semi-PDA yang lain antara lain Blackberry, Symbian, dan Mac OS. Namun untuk 3 OS yang saya sebutkan terakhir jumlah aplikasi medisnya masih jarang.
3.Spesifikasi? Sekarang ini, rata-rata PDA di pasaran memiliki spesifikasi yang sama. Semakin mahal PDA, semakin canggih spesifikasi yang ditawarkan. Namun PDA seharga 2 juta pun sudah mampu menjalankan aplikasi kedokteran di PDA. Wi-Fi cukup bermanfaat untuk mencicipi hotspot kampus. Yang perlu disediakan adalah budget untuk membeli kartu memori tambahan, karena aplikasi kedokteran biasanya memakan memori yang cukup besar. Banyak juga yang menawarkan keyboard qwerty untuk kemudahan mengetik di PDA,
4.Merek apa dan range harga? Saat ini untuk Palm OS tersedia 3 tipe, Palm T|X untuk PDA dan Palm Treo 680 serta Centro untuk PDA phone. Sedangkan untuk Windows Mobile memiliki banyak sekali tipe, mulai dari seri HTC, O2, Sony Ericsson, I-mate, dan HP. Soal harga, untuk Palm OS range 2-3 juta dan Windows Mobile 3-10 Juta rupiah. Untuk OS yang lain ada Blackberry Series (OS Blackberry), I-Phone/I-Pod Touch (Mac OS) dan Symbian Phone Series (Symbian)
5.Aplikasi PDA untuk dokter? Variasi aplikasi kedokteran di PDA cukup beranekaragam mulai dari gratis hingga yang berbayar. Aplikasi kedokteran tersebut antara lain: 1) Referensi obat, misal ePocrates dan Daviz Drug, 2) Buku saku, misal Washington Manual, Sanford Antibiotic Guide, Griffith’s 5 Minute Consult, 3) Kamus, misal Tabers dan Stedman, 4) Textbook, semacam Harrison dan CMDT, 5) Kalkulator kedokteran seperti MedCalc (pernah saya bahas sebelumnya di web) dan aplikasi lainya.
Demikian beberapa pertanyaan yang sering muncul saat memberli PDA. Untuk spesifikasi dan harga PDA yang lebih lengkap silahkan mengecek toko online yang terpercaya seperti TokoPDA atau Bhinneka. Di Bali sendiri sudah banyak sekali dealer yang menjual gadget yang satu ini. Semoga artikel ini dapat membantu rekan-rekan dalam menentukan pilihan. (putu_arya)