Sebelumnya buat yang belum tahu atau sudah lupa tentang berita ini silahkan simak tulisan “Wabah Muntaber di Karangasem Terus Meluas” yang dikutip dari Bali Post berikut
Amlapura (Bali Post) -
Serangan wabah muntah berak (muntaber) di Karangasem terus meluas. Korban rawat jalan maupun rawat inap dilaporkan sudah lebih dari 300 orang, serta lima lainnya tewas.
Terkait terus bertambah dan meluasnya serangan wabah ini, Ketua Komisi II DPRD Karangasem, Gede Dana, Sabtu (29/3) kemarin di Amlapura, menilai eksekutif khususnya Dinas Kesehatan telah gagal melakukan antisipasi dan melindungi masyarakatnya dari wabah itu.
Sementara Kepala Dinas Kesehatan Karangasem dr. I.A. Suci Astiti, M. Kes. mengatakan penderita baru masih terus masuk RSUD Karangasem ataupun Puskesmas Selat. Kemarin, tim dari Dinas Kesehatan Propinsi Bali mengadakan kaporitisasi ke seluruh cubang tempat penampungan air hujan di desa-desa kecamatan Selat dan Bebandem. ”Masih ada jatuh korban muntaber,” ujar Suci Astiti.
Sementara jumlah desa penyebarannya juga terus meluas. Semula yang terserang muntaber penduduk yang bermukim di banjar-banjar terpencar di pegunungan. Sabtu (29/3) kemarin, dilaporkan jatuh penderita dari penduduk di kota kecamatan seperti Selat. Dari Banjar Selat Kaja, yang menderita muntaber tiga orang. Desa penyebaran dilaporkan sudah di 12 desa, meliputi empat kecamatan yakni Selat, Bebandem, Sidemen, dan Karangasem.
Penderita di Puskesmas Selat terus keluar-masuk. Jumat (28/3) lalu, dilaporkan 50 orang pasien masuk, delapan orang terpaksa menjalani rawat inap dan lima lainnya gawat dirujuk ke IRD RSUD Karangasem. Muntaber dilaporkan telah menewaskan lima orang di antaranya Mangku Wayan Keman (58), Sudana, Wenten dan yang terakhir diketahui Ni Ketut Murti (58) dari Padangtunggal Kauh, Desa Duda, Selat, Karangasem. Namun terhadap kematian Murti, Kabid P2M dan PPL Diskes Karangasem dr. Suardana mengatakan belum pasti korban tewas akibat muntaber. Masalahnya, dia tak pernah diperiksa di rumah sakit. Menurutnya, bisa saja korban tewas akibat penyakit lainnya.
Berdasarkan hasil pemeriksaan sampel air cubang penduduk di Selat dan Bebandem semuanya diketahui tercemar bakteri tinja jenis E-colli. Bakteri ini dikenal sebagai pathogen ganas penyebab diare.
Ketua DPRD Karangasem Wayan Sukadana mengatakan Komisi II juga sudah menyarankan agar begitu diketahui sejak Rabu (19/3) lalu, ditetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB), petugas mesti turun mendekati warga dan penyampaikan pengumuman bahwa mesti berhati-hati mengonsumsi air minum. Air minum baik dari sumber cubang atau mata air, terlebih dahulu mesti direbus sampai sekitar sepuluh menit. Kenyataannya meski sudah diketahui penyebabnya dari makanan yang kurang higienis dan lingkungan kurang sehat, tetapi masih banyak warga yang belum memahami hal itu. Bahkan, Subrata di Yeh Kori yang sempat tiga hari rawat inap di RSUD Karangasem saat dikunjungi beberapa hari lalu, belum menerima kaporit untuk mengisi cubangnya. (013)
Well, satu lagi wabah yang cukup membuat tercengang penulis. Ternyata masalah sanitasi masih merupakan masalah yang krusial di Bali. Hal ini membuat kita bertanya-tanya, apakah ini masalah lifestyle kita? Apakah seruan hidup sehat yang diserukan tidak menyentuh masyarakat di pelosok. Tantangan besar buat tenaga kesehatan dan masyarakat. Bagaimana pendapat anda?